Cerpenini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 9 Desember 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com. Cerpen Tentang Kematian merupakan cerita pendek karangan Irdandi Yuda Permana, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. Akusudah mencoba mengendalikan mobil itu tapi tak dapat mencegahku untuk terjerumus ke jurang kematian itu. Berjam-jam aku tak sadarkan diri di dalam mobil yang keadaannya sudah rusak parah menerjang pepohonan sekitar. Tubuhku sudah penuh dengan darah dan aku seperti sedang ada di tengah kematian dan kehidupan. Kasimbertanya pada Juhri yang sedang duduk di atas jok motor sambil memainkan HP. Pertanyaan barusan bukan pertama kalinya yang pernah dilontarkan Kasim. Ia kerap mengajak orang bicara tentang kematian sampai orang-orang perlahan menghindarinya, termasuk para tukang ojek yang memangkal di tempat itu. Hanya Juhri yang dianggap mampu meladeni pertanyaan Kasim tanpa merasa bosan. Saatkeluar aku berencana marahin kakak karena ketukannya yang begitu memusingkan kepalaku. tapi, saat aku membuka pintu.. aku kaget setengah mati "KAKKAKAK belom pakai seragam?????"tanyaku setengah marah Mungkindi mata orang lain, kematianku adalah hal yang tragis dan menyedihkan, tapi untukku, kematian ini adalah kematian terindah, karena dengan kematian ini, aku dapat memeluk erat kekasih hatiku, separuh dari nyawaku, orang yang paling aku cinta, Andika Satria, dan kini aku tak akan melepasnya lagi.. Cerpen Karangan: Anteng Maya Surawi SadEnding, I'm Happy Cerpen Karangan: M. Andhika Pratama Kategori: Cerpen Korea. Lolos moderasi pada: 2 June 2017. Suatu hari, di sebuah ruangan terlihat seorang wanita cantik sedang memainkan piano dengan sangat indah. Ia memainkan lagu bertajuk "A Song Of Joy" karya Ludwig Van Beethoven. U5E8At. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Manusia meninggal setiap hari, karena sakit, kecelakaan, dibunuh, bahkan bunuh diri. Tidak ada hal yang membahagiakan jika berbicara tentang kematian. Kita ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai, meninggalkan kita dalam kesedihan dan penderitaan. Ada banyak kisah menyedihkan tentang mereka yang ditinggal mati. Dan mungkin orang selalu berpikir, bahwa mereka yang ditinggalkan kematian adalah orang-orang yang paling menderita. Tapi, mereka yang meninggalkan kehidupan juga menderita atau bahkan lebih menderita dari mereka yang ditinggalkan. Dan kau tidak akan mengerti maksud ucapanku, sampai kau mendengar kisahku. Semua berawal di bulan Desember tahun lalu. Aku resmi menjadi relawan kematian setelah menjalani enam bulan masa pelatihan. Akhirnya, aku mendapatkan klien pertamaku. Dia adalah arwah seorang gadis berusia 18 tahun bernama Adelia. Dia datang dengan mengenakan piyama abu-abu. Rambut keritingnya terlihat berantakan dan menutupi hampir sebagian wajahnya. Dia begitu pucat. Lingkar matanya hitam dan terlihat sayu. Aku melihat bekas luka di lehernya, sudah membiru. Dari situlah aku tahu kalau dia mati gantung diri. Dia berdiri tepat di hadapanku, seorang gadis yang putus asa, sedih, dan menderita. Aku merasa canggung, tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Aku berpikir, haruskah aku tanyakan bagaimana kabarnya, apa dia lapar, atau haruskah aku seperti dokter dan menanyakan apa keluhannya. Aku lihat dia sedang bersusah payah merapikan rambut keritingnya. "Apa kamu punya sisir?" Aku, yang sudah siap untuk membuka percakapan, seketika terdiam kembali. "Si...sisir?" terkejut mendengarnya dan merasa sangat norak di hari pertamaku. Aku membuka laci meja dan mencari apakah ada sisir di sana. Aku tidak menemukan sisir. Kemudian aku ingat kalau aku selalu membawa ikat rambut di kantong celanaku. Aku pun memberikan ikat rambutku sebagai pengganti sisir. Setelah dia mengikat rambutnya, aku memintanya bercerita tentang kematiannya dan apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya. 1 2 3 4 5 6 Lihat Cerpen Selengkapnya ï»żCerpen Karangan Irdandi Yuda PermanaKategori Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih Lolos moderasi pada 9 December 2021 Kala itu, matahari bersembunyi dibalik tebalnya Stratocumulus hingga mengakibatkan siang yang seharusnya panas terik menjadi sedikit mendung. Satu hal yang ada di pikiran pada hari yang melelahkan adalah pulang ke rumah sembari menelentangkan tubuh di atas kasur lembut murahan yang didapat Kodi dari sunday sale toko furnitur di ujung kota. Seraya melewati polusi suara dan udara di sepanjang jalan, Kodi merasakan sesuatu di saku celananya, bersumber dari getaran ponselnya. Kodi terlalu lelah untuk berhenti dan mengambil ponselnya, sehingga ia mengabaikannya dan ingin terus melaju hingga sampai di rumahnya. Namun, ponsel itu terus bergetar dalam perjalanannya, niat awal untuk mengabaikannya menjadi terusik oleh kerisihannya. Akhirnya ia memberhentikan kendaraan dan menjawab panggilan itu. “6 missed calls from Damar” Tertera di layar ponselnya dibarengi notifikasi panggilan dari Damar. Damar adalah rekan kantornya, ia tidak terlalu dekat dengannya akan tetapi mereka sering mengobrol mengenai urusan pekerjaan. “Di, kamu dimana? sudah tujuh kali ditelepon tidak dijawab” sebelum Kodi berkata-kata, Damar sudah mendahului. “Ada apa?” jawab Kodi. “Kuswan Di, Kuswan meninggal!” lanjut Damar. “Hah?” ucap Kodi penuh rasa heran. Butuh waktu beberapa detik untuk akhirnya Kodi dapat mengeluarkan kata-kata. “Yang benar saja! Siang tadi aku dan Kuswan masih mengobrol biasa masa tiba-tiba meninggal” sanggah Kodi, yang masih mengelak kabar tidak mengenakkan itu. “Kodi, sekarang bukan waktu untuk berdebat! lebih baik kamu pergi ke rumah duka! aku dan yang lain akan sampai disana sebentar lagi.” lalu panggilan itu diakhiri Damar. Kodi membeku, ia masih memproses kabar yang mampet di pikiran itu karena masih tidak mau mempercayainya. “Duh, kenapa harus di hari yang melelahkan seperti ini, sial!” ujar Kodi dengan nada kesal. Rumah Kodi berada di sisi barat kota, sementara rumah Kuswan di sisi timur, daerah perbatasan antara tengah kota dan ujung kota, sehingga Kodi harus memutar balik. Di perjalanan menuju rumah Kuswan, pikiran Kodi bercampur aduk tidak karuan. Ia sangat lelah dan sangat ingin pulang, Kodi masih tidak ingin menerima kenyataan bahwa rekan kantornya telah tiada. Ia sangat berharap semuanya hanya halusinasi akibat rasa lelahnya saja. Tetapi Kodi sudah cukup dewasa untuk menyadari bahwa dunia tidak selalu sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Pikirannya terus berputar-putar, sehingga perjalanan menuju rumah Kuswan seolah terasa sangat jauh. Ia sungguh kebingungan mengenai apa yang akan dilakukannya saat telah sampai disana, akibat rasa kesal, lelah beserta kabar yang datang tiba-tiba membuat pikirannya kebingungan dan seolah kesedihan adalah sesuatu yang asing untuk dirasakan dalam kondisi seperti ini. Sementara itu, kendaraan roda duanya terus melaju hingga akhirnya sampai di depan pekarangan rumah teman karibnya yang meninggal itu. Saat tiba, Kodi tidak merasa sedih, juga tidak merasakan duka sama sekali. Mungkin akan banyak yang berpendapat bahwa Kodi merupakan seorang psikopat yang tidak merasakan emosi. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Bagi Kodi, ia sedang diliputi rasa bingung, batinnya sedang mengalami getaran dan terguncang sehingga ia tidak dapat bersikap normal. Perlahan, rasa takut dan gugup timbul dalam batin Kodi. Takut akan reaksi dan pandangan orang akan dirinya yang tidak menampakkan kesedihan dan duka. Kodi kini sudah didepan pagar rumah temannya, mematung tidak bergerak. Ia berniat pulang dan datang lagi setelah temannya dikuburkan, tetapi urung niatnya itu karena sosok dibelakangnya tiba-tiba menepuk pundaknya seraya menyapanya. “Kodi, ayo masuk!” ujar sosok itu yang ternyata adalah Damar. “Tunggu, masuknya bareng saja.” Ucap Kodi dengan nada penuh keraguan. “Loh, kenapa? Bukannya kamu sering kesini? kok takut begitu?” ucap Damar dengan penuh keraguan pula. “Ya, sekalian saja. Kukira kamu kesini bareng orang-orang kantor, eh malah datang sendiri.” Ucap Kodi yang bersyukur di saat batinnya tengah gugup, masih sanggup memikirkan alasan yang dikiranya logis agar temannya tidak curiga. “Rencananya begitu. Tapi waktu di jalan ban mobil Rio bocor. Ali dan Warto ikut bantu bawa ke bengkel, lalu aku disuruh datang kesini duluan.” Lantas, Damar dan Kodi masuk ke rumah sahabatnya yang telah tiada itu. Mereka sama-sama sahabat karib Kuswan, sama-sama bekerja di satu kantor. Satu-satunya perbedaan keduanya adalah pada wajah Damar terpancar kedukaan, sementara Kodi tidak. Hal itu membuat Kodi tambah terguncang sembari melangkah masuk rumah duka. Suasana rumah itu begitu gelap dengan sinar-sinar putih yang menyilaukan dari jendela. Semuanya berduka. Istrinya, anak-anaknya, keluarganya hingga Damar yang mulai meneteskan air mata dan bersendu. Teringat akan temannya yang banyak membantu itu. isak tangis, suara-suara penuh pilu dan penyesalan. Gerak gerik tangan mengusap air mata berkali-kali, layaknya penyeka kaca yang membersihkan kaca mobil agar pandangan tetap jelas. Kodi mendengarkan dalam-dalam dan mencoba menghayati suara-suara dan isak tangis kedukaan itu, kendati demikian tetap saja rasa duka belum menampakkan diri di dalam batinnya. Rasa cemas dan takut yang menyelimuti juga tidak membantu sama-sekali untuk mengundang rasa sedih akan kehilangan. Adik Kuswan, Watiastri tidak dapat menahan rasa pilunya atas kepergian kakaknya itu. Pipinya basah oleh air mata, matanya sembab akibat tak hentinya menangis. Anak-anak Kuswan, dan kerabatnya yang lain juga tak berbeda kondisinya saat itu. Namun yang membuat Kodi benar-benar terenyuh adalah saat melihat istri Kuswan, Elmira. Wajahnya tak luput dari pancaran rasa duka, layaknya anak-anak, adik dan kerabat Kuswan yang lain. Akan tetapi, Kodi terfokus pada Elmira yang memiliki pribadi tegar, keras dan sangat berpendirian, dimana sebelumnya pernah merasakan kepedihan yang pahit saat mereka mendapati bahwa bayi di dalam kandungannya gugur saat lahir, tetap tegar dan tidak terbenam dalam arus kesedihan mendalam. Kini, dengan mata yang semakin melebam, seolah-olah air mata yang menetes tidak ada habisnya. Beserta isak tangis yang semakin lama terdengar semakin semu dan sendat. Tubuhnya tampak lemah, tetapi tidak pingsan. Jantungnya serasa memompa arus kesedihan yang deras mengalir alih-alih darah agar tubuhnya tetap bertahan. Itu merupakan pemicu awal yang membangkitkan sedikit rasa duka pada diri Kodi, Jika orang yang tegar seperti itu dapat tenggelam dalam rasa duka, kenapa ia tidak bisa? Pertanyaan itu muncul dipikirannya, dan terus menusuk batinnya yang bingung itu. Hal itu menumbuhkan rasa sedih pada dirinya. Kenangan tentang temannya itu lalu mulai memenuhi pikiran Kodi, layaknya perahu yang terbawa arus deras. Air mata-nya pun mulai menetes deras, membasahi pipinya yang sebelumnya kering, akibat debu-debu lalu lintas di perjalanan. Kenangan-kenangan itu tak hanya melewati pikirannya, namun juga bersemayam sesaat, seolah-olah ia merasakan kembali masa-masa lampau tersebut bersama temannya itu. Kini, ia sudah berada di depan jenazah Kuswan. Mata Kodi terpaku pada kakinya, pandangannya serasa terkunci dan tidak dapat menoleh bebas. Kodi sengaja, ia tidak kuat untuk melihat wajah temannya itu untuk terakhir kali, walaupun di lubuk hatinya yang terdalam berkata lain. Ia bahkan tidak tahu harus merasakan bahagia karena akhirnya dapat merasakan duka atau merasa sedih karena temannya sudah berkurang satu, atau dengan kata lain satu-satunya teman dekatnya sudah pergi meninggalkannya. Perasaan ambivalen itu juga lah yang membuatnya tersadar bahwa kehidupan di dunia ini sungguh sangat singkat, untuknya yang sedari dulu menyia-nyiakan hidup dengan ketidakpedulian. Suara mesin motor yang khas itu membangunkan Lily yang sebelumnya hanya setengah tidur. Di malam yang kelabu, tidak ada rasa takut dan cemas akan suara kedatangan di depan rumahnya kala itu, karena suara motor itu sangat familiar baginya. Suara mesin motor itu pastilah bersumber dari milik suaminya yang sudah dikendarai selama setengah dekade. Kala itu suaminya tidak mengetuk pintu, Lily merasa heran namun dengan gesit ia bukakan jalan masuk rumah itu untuk suaminya. Kodi hanya terdiam sebentar saat pintu akhirnya dibuka, lalu tiba-tiba memeluk istrinya. Pelukan itu perlahan berangsur menjadi erat, rasa bingung semakin mengepul pada pikiran Lily, kenapa gerangan suaminya tiba-tiba memberi pelukan di malam hari? Namun ia memilih untuk tetap diam dan membalas pelukan itu dengan kehangatan. Tak terasa sudah berapa menit mereka berpelukan, sesaat sebelum Lily membuka mulut, Kodi melepaskan pelukan. Kehangatannya kini telah hilang, hanya ada rasa kelam. Kodi lalu masuk rumah dan berangkat ke meja kerjanya tanpa sepatah kata. Pintu kemudian ditutup Lily, kebisuan Kodi seperti menular kepada dirinya, ia juga merasa tidak ingin memulai percakapan. Lily melihat Kodi di meja kerjanya, meja itu terdapat di ujung ruangan kamar tidur mereka. Biasa digunakan Kodi untuk menyelesaikan sisa pekerjaan atau untuk sekedar membaca dan melihat langit. Ia mencoba melepaskan kebisuan dengan menyapa sang suami namun tidak ada jawaban. Lalu mendekati dan menepuk pundaknya, namun tetap tak ada jawaban. Jantungnya hampir berhenti berdetak, namun ia tetap mencoba tenang. Saat menyalakan lampu kamar akhirnya ia sadar bahwa suaminya itu tertidur. Saat itu ia berpikir bahwa Kodi bekerja terlalu keras, sehingga tiba di rumah dalam keadaan sangat lelah. Lily menjadi bimbang kala itu, tega kah ia membangunkan suaminya untuk berpindah tidur ke tempat tidurnya atau tega kah ia mengganggu istirahat sang suami yang sungguh kelelahan. Sembari memutuskan, Lily membereskan meja suaminya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan tidur. Meja itu tidak terlalu berantakan, hanya terdapat secarik kertas dan sebuah bolpoin berwarna tosca yang sering digunakan suaminya. Awalnya, ia tidak merasa ada sesuatu yang aneh. Kiranya secarik kertas itu berisi hal-hal penting yang harus dikerjakan Kodi, karena suaminya memiliki kebiasaan mencatat hal-hal penting setiap harinya sebagai pengingat. Namun, kertas itu adalah kertas buku biasa, yang bentuknya tidak karuan pertanda bahwa telah dirobek sembarang. Kodi biasanya menggunakan kertas khusus untuk menuliskan hal-hal penting, dan kertasnya selalu rapi. Perasaan tidak tenang kembali menyelimuti Lily, malam itu sudah tiga kali ia diestrum kecemasan. Dengan perlahan dan penuh penasaran ia mengambil kertas itu dan mencoba mengamatinya. Secarik kertas itu berisi tulisan tangan dengan noda-noda basah bekas air mata. Setelah membaca dengan perlahan dan fokus, ia akhirnya dapat menghembuskan nafas dengan lega, isinya memberi jawaban keanehan tingkahnya pulang kemarin. Ia lalu membangunkan suaminya dan mengantarkannya ke kamar tidur, setelah itu ia duduk termenung di meja kerja suaminya. Bersandar dengan menggenggam secarik kertas itu, lalu membaca dengan pelan dan samar-samar, sembari menangis. Ia tidak mengetahui apakah itu air mata kesedihan, ataukah air mata haru. Namun yang ia ketahui, air mata itu mengandung empati, layaknya makna dari tulisan pada kertas itu, sebuah puisi yang dibuat suaminya, entah untuk dirinya sendiri atau untuk keluarganya atau untuk siapa lagi. Namun yang ia ketahui, kesedihan itu dapat menular. Namanya adalah “empati”. Tentang Kematian Betapa anehnya, sekian detik lalu tidak ada rasa apapun, Saat bertelepon pun tak ada perasaan menggoyahkan sedikitpun. Tapi kenapa? Saat didepan mata, dikelilingi isak tangis. Hanya butuh beberapa detik untuk terjun dalam arus tangisan dan kepedihan. Air mata mengalir terus menerus, bendungan pun dirasa tidak cukup kuat Menahan derasnya aliran emosi. Sungguh, semua hal itu sebenarnya manusiawi. Namun, bagaimana bisa? Bagaimana bisa hanya butuh sekian detik, tanpa rasa apapun tiba-tiba terbawa Isak tangis? Apakah ini yang namanya empati? Cerpen Karangan Irdandi Yuda Permana Blog / Facebook Irdandi Yuda Permana Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 9 Desember 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpen Tentang Kematian merupakan cerita pendek karangan Irdandi Yuda Permana, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Balik ke Ibu Oleh Halub Seisi rumah tersusun rapi, buku-buku terlihat bertandang pada tempatnya, lampu belajar pun tak menyinari meja, dia padam untuk sementara waktu, akan ada masanya dia akan menyala dan bekerja. Kursi-kursi Toga di Pusaramu Oleh Jum'at Tuniah Adzan subuh membangunkanku dari tidurku. Bergegas aku mengambil air wudhu dan menyegerakan salat subuh. Biasanya aku sudah terbangun sebelumnya. Tapi kali ini aku bangun sedikit lebih terlambat dari biasanya. Aku Menyayangimu Kak Part 2 Oleh Siti Mariyam Kak Nico basah kuyup pulang sekolah hari ini karena kehujanan. Andai ia tidak bermain lebih dulu bersama teman-temannya pasti ia bisa pulang tanpa kehujanan. Ia melepar dengan asal sepatu Dua Sahabat Part 2 Oleh Bambang Winarto “Pak Polisi tolong borgolnya dilepas sebentar saja, saya ingin memeluknya.” Pak Polisi membuka borgolnya setelah memperoleh isyarat dari Pak Kapolsek. Mereka bertatapan mata, dan secara bersamaan mereka maju berpelukan. Sebuah Nama, Sebuah Misteri Oleh Gatut Putra Hari ini memang bukan hari yang indah untukku. Aku harus merelakan kepergian sahabat baruku, Cheryl Putri. Hujan air mataku mengiringi kepergiannya. Aku tidak kuat untuk mendampinginya pergi ke sana. “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?" Ces exemples peuvent contenir des mots vulgaires liĂ©s Ă  votre recherche Ces exemples peuvent contenir des mots familiers liĂ©s Ă  votre recherche Dead-ending of round drop cable on poles and buildings. Impasse du cĂąble de dĂ©rivation rond sur les poteaux et les bĂątiments. I'm tired of our leads dead-ending. we're dead-ending. Kim's his daughter. Plastic Debris Is Dead-Ending in the Arctic Sea, Polluting the Antarctic Les dĂ©chets plastiques s'accumulent dans l'ocĂ©an arctique, et polluent l'antarctique We have discussed the dead-ending of 40th Avenue north of the Shopping Centre with the Mayor. [TRADUCTION] Nous avons discutĂ© de la fermeture de la 40e Avenue au nord du centre commercial avec le maire. Tired of our leads dead-ending. Plus de rĂ©sultats The road to the villas is private and dead ending, so no traffic can disturb your rest. Les villas ont un accĂšs privĂ©e afin qu'aucun trafic ne puisse perturber votre repos. Radjabov made it crystal clear that this ending was dead equal. Radjabov dĂ©montra clairement que cette fin Ă©tait tout Ă  fait Ă©gale. That you have a good chance of ending up dead very soon. Que vous avez de bonne chance de finir morte trĂšs bientĂŽt. Children around you have a way of ending up dead. Can't Take My Eyes the Dead Ending - TV Japonais Blondine au pays de l'arc-en-ciel Ending - TV Français That's better than ending up dead. C'est mieux que de mourir. His ending up dead screwed me royally. Sa mort ne m'arrange pas du tout. Dead Harvest This Ending 2009 From $ Dead Harvest This Ending 2009 À partir de 10,49 € Based on lack of hemorrhagic tissue, she was dead before ending up in the baler. Pas d'hĂ©morragie dans les tissus, elle Ă©tait morte - avant d'arriver dans la presse. After that, you cut the radio and Caution plays the dead, same ending. AussitĂŽt aprĂšs, tu coupes et Caution fait le mort. I send you and the land mine to do this... I guarantee someone's ending up dead. Je vous envoie faire ça, toi et la mine, on peut ĂȘtre sĂ»r qu'il y aura des morts. Maison de campagne, located on a dead ending road in the South Morvan on a plot of 2307mÂČThe house is immediately habitable and has a South MorvanThe house is equipped with alarm and is totally renovated. Maison de campagne, situĂ©e sur une route sans issue dans le Morvan Sud sur un terrain de 2307mÂČLa maison est immĂ©diatement habitable et a une connexion Ă  une fosse y a un poĂȘle Ă  bois confortable. He didn't say, but he did point out this pattern of people around you ending up dead. Il ne l'a pas dit, mais il a pointĂ© cette tendance qu'ont ceux que vous cĂŽtoyez Ă  mourir. Sam & Max Ice Station Santa is a graphic adventure in which you have to make use of your intelligence to find out what has happened to Mr. Klaus to make him so furious and solve it, avoiding ending up dead. Sam & Max Ice Station Santa est une aventure graphique oĂč vous devez utiliser votre intelligence pour dĂ©couvrir pourquoi Mr. Klaus est tellement en colĂšre et Ă©viter de mourir. Aucun rĂ©sultat pour cette recherche. RĂ©sultats 30. Exacts 6. Temps Ă©coulĂ© 192 ms. Documents Solutions entreprise Conjugaison Synonymes Correcteur Aide & A propos de Reverso Mots frĂ©quents 1-300, 301-600, 601-900Expressions courtes frĂ©quentes 1-400, 401-800, 801-1200Expressions longues frĂ©quentes 1-400, 401-800, 801-1200 Diskusi Babat Alas dan Selebrasi Cerpen-Cerpen Kematian 26 Februari 2012 Maya Nirwana-Bass Serasi Suatu ketika kami punya gagasan, kurang lebih begini "Pertemuan selanjutnya, tanggal 26 Februari, masing-masing bikin satu cerpen bertema 'Kematian'!" Ternyata, gayung bersambut. Kawan-kawan Komunitas Babat Alas sangat bersemangat mewujudkan gagasan tersebut. "Oke, semua harus bikin cerpen bertema kematian." Mengenai tema "Kematian" itu sendiri, didapatkan melalui sebuah KATA terakhir dari halaman sebuah buku. KATA tersebut diambil melalui kesepakatan yang diambil dengan metode Kami masing-masing mengajukan sembarang bilangan, lalu bilangan tersebut dijumlahkan. Hasil penjumlahan tersebut disepakati sebagai halaman sebuah buku. Dan, ternyata kata yang didapatkan adalah "MATI". Demikianlah, hingga pada akhirnya kami berkumpul pada Minggu pagi yang cerah. Hadir dalam pertemuan tersebut Zada Zahira Kartini dan M. Nur Aini Banyubiru, Asri Candrita Kudus, Ahmad Syarifuddin El-Syekripsi Demak. Masing-masing diberikan kesempatan untuk membacakan cerpennya. ASRI Candrita, membacakan cerpen "Satu Pagi Biru". "Satu Pagi Biru" mengisahkan tentang seorang gadis yang bernama Pagi. Ia kehilangan kekasihnya yang bernama Biru. Suatu ketika, Pagi melihat seorang lelaki belia yang mirip dengan Biru. Tetapi, ia tetap saja BUKAN BIRU. Karena penasaran, Pagi selalu mengikuti kemana lelaki belia itu pergi. Perlahan, tanpa disadari oleh Pagi, sosok Biru mulai tergantikan oleh lelaki BUKAN BIRU tersebut. Hingga pada suatu ketika terbongkarlah sebuah rahasia yang tersurat pada selembar surat Ibu. Ternyata, lelaki BUKAN Biru tersebut adalah adik Pagi. Mereka berselisih 9 tahun. Lelaki belia adik Pagi tersebut bernama SENJA. Setelah Asri Candrita, Zada Zahira Kartini membacakan sebuah cerpen yang cukup menyentuh berjudul "Selamat Jalan Cinta." Cerita tersebut mengisahkan tentang percintaan Eza dan Zahra. Cerita tersebut diawali dari tulisan-tulisan di diary, yang tertulis baik di laptop dan catatan di bukunya. Yang menjadi menarik dari kisah Zada adalah komentar dari kawan-kawan bahwa cerita Zada itu "FTV Banget." Dari situ akhirnya kawan-kawan tahu, bahwa Zada memang pernah berpengalaman di bidang pertelevisian. Ia pernah menjadi figuran utama dalam sebuah cerita FTv. Ia juga pernah membintangi iklan sebuah Bank Syariah di televisi. Walhasil, kawan-kawan pun merencanakan suatu saat akan membincang tentang film termasuk tentang penulisan skenario. Kemudian Menur M. Nur Aini membacakan cerpennya berjudul "Burung Misterius". Rupanya ini adalah sebuah kisah childhood. Kisah wafatnya nenek menjadi desain cerita. Cerpen Menur menjadi sangat dekat karena ia bercerita tentang pengalamannya, dan ia menuliskannya secara detail tentang kenangannya. Ia sangat rapi merawat kenangan tentang kebiasaan neneknya memberinya kelereng setiap kali ia main ke rumah. Akan tetapi, seperti yang disampaikan di awal, bahwa cerita ini adalah cerita kematian. Dan Menur dengan lihai mengemasnya dengan menghadirkan Burung Tuwu sebagai pertanda kematian. Yang terakhir adalah Ahmad Syarifuddin El-Syekripsi. Seperti halnya Menur, El-Syekripsi juga mengisahkan tentang pengalaman pada masa kecilnya. Bahwa ia memiliki seorang adik yang ketika ia ditanya, "Adik, mau punya adik lagi?" ia akan SELALU menjawab, "Aku mau punya adik lagi, tetapi adik dari tanah," katanya. Ternyata sang adik tak lama kemudian telah dipanggil ke sisi Tuhan Yang Maha Kasih karena wabah Demam Berdarah DB yang menyerang desanya. Dalam cerita tersebut, El-Syekripsi juga mengkritik kultur masyarakat pada saat itu yang masih mengesampingkan pengobatan medis. Sedangkan M. Rifan Fajrin, membacakan cerpennya berjudul "Jenazah-Malaikat". Lalu, di manakah Habib A Abdullah? Ohoho, ia datang terlambat. Dan itu diperparah dengan ia tak membaca sepotong pun cerpennya. hehehe. Piss Broo.. Akhirnya, mari berkarya menuliskan jejak sejarah kita masing-masing. Tetap semangat. Salam hangat, dan doa kuat-kuat.[]

cerpen sad ending kematian